Senin, 19 Maret 2012

TINITUS

PENDAHULUAN

          Tinitus disebut juga telinga berdenging, sering terdengar pada satu telinga sesekali dua telinga. Tinutus merupakan gejala klinis dari suatu penyakit baik ditelinga maupun ditempat lain. Kebanyakan orang menganggap tinitus sebagai tanda penyakit telinga yang cukup serius yang dapat menimbulkan ketulian sehingga perlu segera dilakukan pemeriksaan sedini mungkin. Tinitus biasanya merupakan kelainan sensasi suara pada seseorang yang dinyatakan sebagai suara bising seperti mendengung, mendesis, menderu, berdering. Tinitus biasanya dihubungkan dengan ketulian sensori neural dan dapat juga terjadi karena gangguan konduksi.(1,2,3,4,5,6)
          Di Amerika Serikat 35 juta orang mengeluhkan tentang Tinitus.  Prevalensi terjadinya Tinitus terutama pada usia 40-70 tahun tanpa adanaya perbedaan kejadian pada laki-laki dan wanita. Tinitus kadang-kadang bisa dialami oleh anak-anak.
          Tinitus seringkali dikeluhkan terutama pada orang tua yang menderita prebiskusis. Pada beberapa orang tinitus dapat terjadi salama panik atau cemas dan dapat merupakan problema yang sangat mengganggu tidur dan pekerjaan. Episode periodik serangan tinitus lebih mengganggu dari pada tinitus menetap, mungkin otak tidak terbiasa atau tidak dapat mensupresi bising tersebut.(1,3,4,5)
Untuk bisa mengobati penderita dengan keluhan tinitus maka perlu bisa mendiagnosis penyakit penyebab tinitus.(2,3,4,,5,6,7)
DEFINISI     
       Tinitus adalah sensasi bising didalam telinga atau kepala dapat objektif atau subjektif.(2,3,7)
Tinitus merupakan suatu persepsi adanya bising tanpa adanya rangsang bunyi (8 )

ANATOMI TELINGA



1.    Telinga bagian luar

a.    Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit
b.    Liang telinga berbentuk huruf S denagn rangka tulang rawan  1/3 bagian luar, sedangkan 2/3 bagian dalam terdiri dari tulang, panjangnya kira-kira 2,5-3 cm. Pada kulit liang telinga terdapat kelenjar serumen dan rambut.
c.    Membran timpani (Gendang telinga)
Adalah selaput tipis yang atletis, cekung, warna putih keabuan.
Secara histologis terdiri dari 3 lapisan :
o Pars dense (terang)
o Pars flacida (gelap) à menempel pada tulang pendengaran : os malleus
o Pars umbo (titik tercekung)



2.    Telinga bagian tengah
a.    Membran timpani : bagian luar diliputi oleh epitel dari liang telinga dan bagian luar diliputi oleh mukosa cavum timpani.
b.    Cavum tympani: terdapat tulang perdengaran maleolus, inkus dan stapes.



Gambar 3 : Tulang-tulang pendengaran
c.    Tuba eustasius yang menghubungkan kavum tympani dengan nasofaring.
d.    Processus  mastoideus dengan selulae mastoidea yang berhubungan dengan cavum tympani.
3.    Telinga bagian dalam
a.    Cochlear (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran
Kokhlea merupakan organ perdengaran seperti rumah siput dengan 2 dan satu setengah putaran.
b.    Vestibular yang terdiri dari 3 kanalis semisirkularis
Vestibular yang terdiri dari sacalus, utriculus, canalis semisircula
Pada irisan melintang koklea tampak :
  1. Skala vestibuli sebelah atas
  2. Skala tympani sebelah bawah
  3. Skala media (duktus koklearis) diantaranya
Skala vestibuli dan skala tympani berisi perilimf, sedangkan skala media berisi endolimf.

          Dasar skala vestibuli disebut sebagai membran vestibuli (Reissner’s Membrane) sedangkan dasar skala media adalah membran basalis. Pada membran ini terletak organ corti. Yang mengandung organel –organel penting untuk mekanisme saraf perifer pendengaran.
          Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membrana tektoria. Pada membran basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut luar, sel rambut dalam dan kanalis corti yang membentuk organ corti.

PERDARAHAN PADA TELINGA BAGIAN DALAM
          Arteri labirintis (arteri auditiva interna) dahulu dianggap sebagai end arteri akan tetapi anggapan sekarang mungkin ada anastomose dengan urat-urat darah yang ada dalam kavum tympani. Arteri ini berasal dari arteri serebelli inferior anterior atau langsung dari arteri basilaris masuk meatus akkustikus internus dan bercabang sebagai :
  • Ramus vestibularis untuk bagian atas vestibulum dan kanalis semisircularis.
  • Ramus vestibulo koklearis untuk bagian bawah dari vestibulum dan kanalis semisircularis dan kokhlea bagian basal.
  • Ramus kokhlearis propria untuk bagian kokhlea lainnya.

PERSARAFAN PADA TELINGA
          Nervus akustikus bersama dengan N. fasialis kedalam porus dari meatus akustikus internus dan bercabang dua sebagai N. Vestibularis dan N. cochlearis. Pada dasar Nervus akustikus internus letak ganglion vestibularis dan pada medianus (coclea) letak ganglion spiral kokhlea. Dan ganglion vestibulare ada cabang Nervus utricoampularis ke macula utrikuli dan Krista ampularis dari kanalis semisirkularis superior dan lateral. Nervus sakkularis ke makula sakkuli dan Nervus ampularis inferior ke kanalis semisircularis bagian posterior. Dari ganglion spiralis koklea urat saraf pergi ke lamina spiralis ossea dan membran basilaris sampai ke sel-sel persepsi pada alat korti.

FISIOLOGI PENDENGARAN

          Getaran suara di tangkap oleh daun telinga yang dialirkan keliang telinga dan mengenai membrana timpani, sehingga membrana timpani bergetar. Getaran ini diteruskan ketulang-tulang pendengaran yang berhubungan satu sama lain, ditranmisikan pertama kali oleh maleus, kemudian ke incus dan stapes. Setelah suara mencapai stapes, gelombang suara diubah dari gelombang tekanan udara menjadi kekuatan mekanis.
 Selanjutnya stapes menggerakkan tingkap lonjong (foramen ovale) yang juga menggerakkan perilimf dalam skala timpani, sehingga tangkap bundar (foramen rotundum) terdorong kearah luar.
          Skala media yang menjadi cembung mendesak endolimf dan mendorong membran tarsal, sehingga menjadi cembung kebawah dan menggerakkan perilimf pada skala timpani. Pada waktu istirahat ujung sel rambut berkelok-kelok dan dengan berubahnya membran basal ujung sel rambut itu menjadi lurus. Rangsangan fisik tadi dirubah oleh adanya perbedaan ion kalium dan natrium menjadi aliran listrik yang diteruskan kecabang-cabang nervus VIII, yang kemudian meneruskan rangsangan itu ke pusat sensorik pendengan diotak (area 39-40) melalui syaraf pusat yang ada di lobus temporalis.
               Telinga sehat memproses frekuensi suara dengan kisaran 20 Hz sampai 20.000 Hz. Secara fisiologi telinga dapat mendengar nada antara 20 Hz sampai 18.000 Hz. Untuk pendengaran sehari-hari yang paling efektif adalah antara 500-2000 Hz.

Fisiologi Pendengaran

PEMBAGIAN TINITUS
          Pembagian tinitus bermacam-macam, tetapi pada umumnya tinitus terbagi atas
1.     Tinitus subjektif
Suara atau bising hanya dapat didengar oleh penderita, jenis ini paling sering terjadi. Tinitus ini bernada tinggi dan biasanya dihubungkan dengan tuli sensorineural. Tinitus ini bisa disebabkan oleh keadaan yang tidak normalo pada kohlea , nervus kohlearis.
2.    Tinitus objektif
Suara atau bising selain dapat didengar oleh penderita, dapat juga didengar oleh orang lain. Tinitus ini bernada rendah dan bersamaan dengan tuli konduktif.

ETIOLOGI
  1. Tinitus subjektif
Penyebab pasti terjadinya tinitus subjektif tidak diketahui, tetapi diduga ada beberapa faktor penyebab tinitus subjektif antara lain :
a.     Obstruksi pada bagian yang meneruskan getaran, karena :
·      Kelainan telinga luar
Akibat penutupan total liang telinga oleh serumen, sekret, benda asing dan tumor.
·      Kelaianan telinga tengah
Pada penyumbatan tuba eutachius, cairan di cavum tympani pada tuba catarrh eksudatif, otitis media perforata otosklerosis.
·      Kelainan telinga dalam
Akibat kerusakan reseptor sensoris organ korti di koklea karena:
o   Trauma akustik
o   Keracunan obat-obatan terutama golongan obat anti implamasi, anti biotik dan anti depresi.

           TABEL OBAT-OBAT YANG BISA MENYEBABKAN TINITUS

GOLONGAN
NAMA OBAT
ASPIRIN
Percodan
Darvon
Bufferin
Ecotrin
AMINOGLIKOSIDA
Gentamisyn
Kanamysin
Neomisyn
Streptomysin
Tobramysin
Amicacin
NSAID
Fenoprofen
Ibuprofen
Indomethasin
Ketoprofen
Nafroksen
Fhenil Butazon
Sulindak
Tholmethin
ANTIDEPRESAN
Amytriptilyn
Amoksapyn
Desypramyne
Doxsepyn
Imypramyn
Maprotylyn
Nortriptilyn
Prtryptylin
Tranzone
Trymipamyn


o   Arterosklerosis
o   Anemia
o   Gangguan metabolisme, misalnaya : hipotiroid, hipertiroid, hiperlipidemia, defisiensi seng (ZN) dan vitamin.
b.    Kelainan saraf akustik dan serebral akibat tumor otak dan atropi otak
c.     Reflektoris
Kelainan di luar telinga dapat menyebabkan subjektif :
    • Kontraksi muskulus masetter, palatum mole
    • Pergerakan sendi temporo mandibular waktu menelan
    • Proses patologi gigi geligi
d.    faktor Psikologis
·        Stress
·        Depresi
  1. Tinitus objektif
Tinitus objektif sering disebabkan oleh
a.     Gangguan vaskuler di telinga tengah dan hidroendolimfatik di telinga dalam karena :
·        Aneurisma pada cabang arteri carotis
·        Tumor globus jugulare, tumor carotis
·        Hipertensi berat
·        Stess akibat gangguan keseimbangan hormonal, seperti menjelang mentruasi.
b.    Gangguan mekanis
Tuba eustachius yang tetap terbuka akibat sikatrik karena tiba-tiba menjadi tipis sehingga jaringan lemak disekitar tuba berkurang atau sesudah operasi dimulut.
c.     Kejang klonus muskulus tensor timpani dan muskulus stepedius serta otot-otot palatum.




PATOFISIOLOGI
       Pada tinitus terjadi aktivitas elektrik pada area auditoris yang menimbulkan suara adanya bunyi, namun impuls yang ada bukan berasal dari bunyi eksternal yang di tranformasikan, melainkan berasal dari sumber impuls abnormal di dalam tubuh pasien sendiri.
          Impuls abnormal itu dapat ditimbulkan oleh berbagai kelainan telinga. Tinitus dapat terjadi dalam berbagai intensitas. Tinitus dengan nada rendah, seperti gunuruh atau nada tinggi, seperti berdenggung. Tinitus dapat terus-menerus atau hilang timbul terdengar.

GEJALA KLINIS
       Menurut Weiss, lamanya tinitus kurang dari satu menit tidak patologis dan biasanya hilang sendiri. Tinitus patologis bila lama serangan minimal lima menit.
          Tinitus subjektif dengan nada tinggi keluhan bising digambarkan sebagai bising berdengung, mendeging, berdering, menderu yang dapat berlangsung lama. Dapat hilang timbul. Tinitus ini dapat lebih terdengar pada ruangan sunyi dan biasanya paling menggangu pada malam hari saat menjelang tidur. Selama siang hari efek kebisingan lingkungan dan aktifitas kerja sehari-hari dapat menyebabkan penderita tidak menyadari suara tersebut.
          Tinitus objektif dengan nada rendah dikeluhkan sebagai keluhan bising menderis, bergeremuh yang sinkron dengan denyut nadi. Penderita dapat juga mendengar suara pernafasanya sendiri didalam telinga. Tinitus objektif yang berpulasi tanpa gangguan pendengaran merupakan gejala dini yang penting pada tumor jugulare.

PEMERIKSAAN
       Pada pemeriksaan hidung telinga tenggorok (THT) dapat ditemukan gangguan pendengaran yang menyertai tinitus berupa tuli sensori neural, tuli konduktif yang dapat diketahui secara kualitatif dengan menggunakan garpu tala dan kwantitatif dengan mempergunakan audiometric. Juga dapat dijumpai gambaran klinis penyakit THT penyebab tinitus
          Diperlukan banyak pemeriksaan penunjang untuk mengetahui berbagai penyebab tinitus seperti:
1.     Pemeriksaan radiology
a.    CT-Scan untuk mengetahui kelainan intrakranial,retrokklear
b.    Pada tinitus objektif dapat dilakukan angiografi untukmengetahui letak aneurisma, tumor. Venogram jugulare pada tumor globus jugulare.

2.    pemeriksaan laboratorium
darah lengkap, gula darah, lemak darah, fungsi hati dan ginjal dan hormon tiroid.




DIAGNOSIS
          Tinitus merupakan gejala klinis, untuk menegakkan diagnosa penyebab tinitus didasarkan pada :
1.     Anamnesa
Mempunyai peranan penting meliputi bagaimana sifatnya dan lamanya . apakah menggangu dan bertambah berat pada malam hari, gejala lain seperti vertigo, gangguan pendengaran. Perlu juga ditanyakan apakah ada riwayat cidera kepala, trauma akustik. Minum obat-obat toksik dalam jangka waktu panjang, serta faktor psikis.
2.    Pemeriksaan THT
3.    Pemeriksaan penunjang: radiologi dan laboratorium
Apabila pada pemeriksaan THT tidak dijumpai kelainan, perlu konsultasi dengan ahli penyakit dalam, ahli saraf dan ahli jiwa.

PENATALAKSANAAN
          Pengobatan tinitus merupakan masalah kompleks. Penderita gangguan ini diberi penjelasan yang baik sehingga rasa takut tidak memperberat tinitus tersebut dan dianjurkan agar dapat beradaptasi dengan gangguan tersebut..
          Pengobatan tinitus yang ideal adalah dengan menghilangkan penyebabnya bila diketahui penyebabnya. Setiap pasien yang mendapat obat-obatan toksik harus menghentikan obat-obatan tersebut bilamana mungkin. Pasien ditempat kerja yang bising harus menggunakan peralatan pelindung dan harus membatasi paparan terhadap suara bising.
          Sering penyebab tinitus sukar diketahui dan diobati. Pada umumnya pengobatan ditujukan terhadap gejala tinitusnya     .
  • Tinitus ringan
Dapat diberikan medicamentosa dengan tujuan:
o   Sedativ, antidepresan, tranqulizer : menenangkan saraf
o   Betahistin : memperbesar aliaran darah koklear dan saraf  perifer.
o   Vitamin dan mineral : memperbaiki integritas vaskuler beradaptasi dengan gangguan tersebut dengan cara menyamarkan bising dengan bising kipas angin, suara radio, dan kaset. Sehingga perhatian terhadap tinitus hilang dan penderita dapat beristirahat dengan baik.
  • Tinitus berat
Jika menggangu pekerjaan dan istirahat penderita, tindakan sederhana tidak mengurangi keluhan, maka dianjurkan pengobatan dengan :
o   Alat pembantu mendengar
Prinsipnya memberikan ‘’ White noise” pada nada tertentu sesuai dengan frequensi tinitus. Intesitasnya tidak dapat diatur oleh penderita.
o   Tinitus masker
Prinsip alat ini menutupi dengan suara yang sesuai dengan frequesi tinitus secara intermitten denagn waktu 30 detik
o   Walkman mini stereo system
o   Psikoterapi
o   Pembedahan
Misalnya stapedektomi pada penderita otosklerosi, memutuskan hubungan A-V dengan cara ligasi V. Jugularis pada penderita tinitus objektif. Translabyrinth eight nerve section pada daerah superior dan inferior saraf vestibular pada tinitus dengan vertigo. Operasi trauma akustik yaitu mengeluarkan seluruh tulang labirin dan saraf VIII

PERAWATAN  UNTUK TINITUS
          Tidak ada perawatan yang tunggal untuk tinutis pencegahan yang efektif adalah pencegahan penyebab dari tinitus, akan tetapi penyebab dari tinitus selalu sulit dikenali dan dikoreksi. Ada berbagai pilihan untuk perawatan meliputi:
Penggunaan alat bantu dengar yang menghasilkan suatu kumpulan bunyi yang berisik yang lebih menyenangkan dari tinitus.








EPIGLOTITIS

EPIGLOTITIS
PENDAHULUAN
            Epiglotis merupakan tulang rawan yang tipis , fleksibel , berbentuk daun dan fibroelastik.Epiglotitis adalah inflamasi akut dari epiglotis dan struktur sekitarnya termasuk lipatan – lipatan aryepiglotis dan jaringan lunak arytenoids.Penyakit saluran nafas atas ini dapat menjadi parah dan mengancam jiwa.Melalui riwayat penyakit pada anak – anak , epidemiologi terbaru menyatakan bahwa penyakit ini sekarang sering terjadi pada anak – anak .
            Spektrum penyakit ini telah mengalami perubahan signifikan sejak diperkenalkannya vaksin haemophilus influenzae type b (Hib ) pada tahun 1985.Penyakit ini terjadi pada anak berusia 2-7 tahun dan paling sering disebabkan oleh Hib .Banyak patogen patogen lain yang dapat menyebabkan epiglotis termasuk Streptococcus group A,B dan C , Streptococcus pneumoniae , Klebsiella pneumoniae , Candida albicans , Staphylococcus aureus , Haemophilus parainfluenzae , Neisseria Meningitidis , Varicella zoster , dan beberapa virus lainnya.Trauma langsung dan cedera akibat suhu juga dapat menyebabkan inflamasi pada epiglotis .

ANATOMI
Epiglotis adalah tulang rawan yang berfungsi sebagai katup pada pita suara (laring ) dan tabung udara (trakea ) yang akan menutup selama proses menelan berlangsung Epiglotis merupakan tulang rawan yang tipis , fleksibel , berbentuk daun dan fibroelastik yang terletak di belakang radix linguae .Dalam pembahasan anatomi epiglotis , tidak terlepas dari pembahasan anatomi laring.laring adalah organ khusus yang mempunyai sphingter pelindung pada pintu masuk jalan nafas dan berfungsi dalam pembentukan suara.
            Laring terletak di depan bagian terendah faring yang memisahkannya dari kolumna vertebra , berjalan dari faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk kedalam trakea didalamnya.Di atas ia membuka ke dalam laringofaring dan di bawah ia menyambung ke trakea.
Laring terdiri dari 9 kartrilago(6 kartilago kecil dan 3 kartilago besar )terbesar adalah kartilago Tyroid yang terdiri dari rangkaian cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otot – otot dan mengandung pita suara., dan di sebelah depannya terdapat benjolan subkutaneus yang dikenal sebagai jakun .Laring terdiri atas dua lempeng atau lamina yang tersambung di garis tengah Di tepi tas terdapat lekukan berupa tulang rawan krikoid yang terletak di bawah tiroid , Tulang rawan lainnya ialah kedua tulang rawan aritenoid dan kanan dan kiri tulang rawan kuneiform dan tulang rawan kornikulatayang sangat kecil.Arytenoid pada laring memiliki fungsi yang besar untuk membuka dan menutup pita suara (vocal cords), memiliki bentuk segitiga yang terletak di tepi atas krikoid di perbatasan posterior laring
Pada  puncak tulang rawan tiroid terdapat epiglotis yang berupa katup tulang rawan dan membantu menutup laring sewaktu orang menelan .Laring dilapisi oleh jenis selaput lendir yang sama dengan yang di trakea , kecuali pita suara dan bagian epiglotis yang dilapisi oleh sel epitelium berlapis.
Laring dipersyarafi oleh saraf sensorik dan motorik.Dua saraf larinegus superior dan dua inferior atau laringeus rekuren , saraf laringeus merupakan cabang – cabang saraf vagus.Saraf laringeus seperior meninggalkan trunkus vagalis tepat dibawah ganglion nodosum , melengkung ke anterior dan emdial bawah arteri karotis eksterna dan interna , bercabang menajadi satu cabang sensorik interna dan cabang motorik eksterna,Cabanng intern menembus membrane tiroidea untuk mengurus persarafan sensorik valekula, epiglotis , dan seluruh mukosa laring superior interna.
 Pita suara terletak di sebelah dalam larinx,  berjalan dari tulang rawan tiroid di sebelah depan sampai  di kedua tulang rawan aritenoid.Dengan gerakan dari tulang rawan aritenoid yang ditimbulkan oleh berbagai otot laringeal , pita suara ditegangkan atau dikendorkan.Dengan demikian lebar sela – sela antara pita – pita atau rima glottidis , berubah ubah sewaktu bernafas dan berbicara.Karena getaran pita yang disebabkan udara yang melalui glottis maka suara dihasilkan.Berbagai otot yang terkait pada larinx mengendalikan suara , dan juga menutup lubang atas larinx sewaktu menelan.
Pada waktu menelan , gerakan laring keatas , penutupan glotis dan fungsi seperti pintu dari epiglotis yang berbentuk daun pada pintu masuk laring, berperan untuk mengarahkan makanan dan cairan masuk kedalam aesofagus. .

DEFENISI
Epiglotitis adalah suatu infeksi pada epiglotitis , yang dapat menyebabkan penyumbatan saluran pernafasan dan kematian.Infeksi pada epiglotis ini merupakan penyakit yang sama berbahayanya dengan croup yaitu suatu infeksi laring yang menimbulkan stridor dan obstruksi jalan nafas
Epiglotis akut menggambarkan infeksi yang sangat cepat dan progresif yang menyebabkan peradangan pada epi glotis (flap yang mencakup trakea )dan jaringan di sekitar epiglotis yang dapat menyebabkan penyumb atan mendadak dari saluran nafas atas dan kematian.
SINONIM
Sinonim dari Epiglotitis adalah supraglotitis

EPIDEMIOLOGI
Epiglotitis paling sering pada anak anak berusia antara usia 2 dan 8 tahun , meskipun penyakit ini dapat mengenai usia berapapun.Pria lebnih sering terkena dibandingkan wanita dengan perbandingan 2,5:1. Pada orang dewasa , merokok dan kurangnya imun tubuh dapat menjadi faktor resiko , dan ada beberapa bukti yang mendukung peningkatan resiko pada penderita diabetes.Sejak terjadi kemajuan dalam hal vaksinasi melawan haemophilus influenza type b pada anak – anak , insidensi epiglotitis akut pada anak telah berkurang.Selama beberapa tahun terakhir kejadian epiglotitis pada orang dewasa terlihat mengalami peningkatan

ETIOLOGI
Penyebab epiglotitis adalah berbagai mikroorganisme yang menyebabkan infeksi akut jalan nafas.Epiglotitis hampir selalu disebabkan oleh bakteri haemophilus influenza tipe b.Pada anak – anak yang lebih tua dan orang dewasa kadang disebabkan oleh
streptokokus .
Penyebab lain yang menimbulkan epiglotitis adalah pneumpococci ,group A beta haemolytic streptococcus  ,pseudomonas ,mycobacterium tuberculosis ,virus ,trauma lokal , seperti terhirup benda asing atau setelah intubasi
PATOFISIOLOGI
            Epiglotitis biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri .Infeksi yang berat menyebabkan peradangan dan edema epiglotis , supraepiglotic dan jaringan sekitar lainnya.Bakteri secara langsung menyerang selaput lendir epiglotis diamana sub mukosa menjadi longgar.Jalan nafas menjadi tersumbat akibat pembengkakan epiglotis yang berkembang dengan cepat.Terjadi gangguan pernafasan dan obstruksi jalan nafas total.Walau jarang , penyebab non infeksi bisa disebabkan oleh adanya trauma luka bakar dan trauma kaustik yang dapat menyebabkan epiglotitis.Anak – anak dengan luka bakar terutama akibat air panas juga harus diamati dengan hati – hati agar tidak terjadi komplikasi.Penyebab lain epiglotittis seperti tertelan benda asing , cedera akibat inhalasi dan angioneuretik edema


GEJALA KLINIS
 Banyak tanda dan gejala yang dapat terjadi pada epiglotitis , dan gejala nya dapat berkembang pesat dan dapat terjadi dalam beberapa jam.Gejala klinis epiglotitis yang paling umum adalah sakit tenggorokan ringan atau infeksi saluran pernafasan atas.hal ini diakibatkan karena infeksi bermula di saluran pernafasan atas .kemudian infeksi bergerak ke bawah yaitu di epiglotis.
            Epiglotitis dapat segera berakibat fatal karena pembengkakan jaringan yang terinfeksi dan dapat menyumbat saluran udara dan menghentikan pernafasan.Peradangan pada faring menyebabkan terjadi pembengkakan epiglotis .Hal ini disebabkan karena edema jaringan longgar pada permukaan atas , yang kemudian dapat menyebar untuk ke daerah supraglotis yang lebih luas..Epiglotitis dapat segera berakibat fatal karena pembengkakan jaringan yang terinfeksi dapat menyumbat saluran udara dan menghentikan pernafasan.
            Infeksi biasanya dimulai secara tiba – tiba dan berkembang dengan cepat.gejalanya terdiri dari :
a.sulit menelan
b.air liur keluar berlebihan (drooling)
c.odinofagi
d.stidor (suara pernafasan yang kasar)
e.suara serak
f.anak tampak sakit keras dan gelisah
g.demam
h.sianosis (warna kulit kebiruan )
            gejala lain dapat berupa :
a.batuk
b.nyeri telinga
c.tripod sign ( badan membungkuk ke depan , sebagai upaya untuk bernafas )
Pada epiglotitis yang lebih parah dapat berupa :
a.dypsnoe
b.dyspagia
c.disfonia

d.stridor (mendadak adanya obstruksi jalan nafas)
e.respiratory disease

 DIAGNOSIS
            Diagnosa ditegakkan bedasarkan.anamnesa ,pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
Anamnesa yang dapat ditemukan adalah biasanya pasien akan mengeluh demam (suhu tinggi ) bisasanya merupakan gejala pertama.Seseorang dengan epiglotitis juga akanmengeluh sangat sakit tenggorokan.Pasien dapat juga memiliki suara yang serak dan nyeri menelan.Karena sakit pada waktu menelan , pasien mungkin mengeluarkan banyak air liur
karena sulit menelan.Batuk juga merupakan gejala yang umum yang dapat dijumpai.
            Trauma akibat benda asing merupakan penyebab lain dari epiglotis yang jarang terjadi.Pasien akan datang dengan keluhan stridor dan kesulitan menelan.Suara serak dan perubahan suara akan menjadi kecurigaan akibat tertelan benda asing pada anamnesa awal.
Pemeriksaan fisik pada epiglotitis merupakan gejala dan hasil pemeriksaan dengan laringoskopi yang menunjukan pembengkakan epiglotis.

 A.Laringoskopi
            Laringoskopi adalah cara terbaik untuk mengkonfirmasi diagnosis epiglotitis.fibreoptic laryngoscopi adalah “Gold standard “ untuk mendiagnosa epiglotitis karena epiglotitis dapat langsung dilihat.Namun hal ini digunakan dengan melihat kondisi pasien dnegan hemodinamik yang stabil dan memiliki jalan nafas yang baik.Namun hal ini menjadi kekawatiran akan terjadinya obstruksi jalan nafas sehingga laringoskopi pada pasien ini harus dilakukan di tempat – tempat misalnya kamar operasi diamana tersedia intubasi atau trakeostomi jika terjadi obstruksi jalan nafas.

B.X-Ray leher
Foto polos leher dengan melihat soft tissue lateral

C.Pemeriksaan Laboratorium
a.Pemeriksaan darah lengkap
Pembiakan darah atau lendir tenggorokan dapat menunjukan adanya bakteriPada pemeriksaan darah lengkap tampak peningkatan jumlah sel darah putih .Rontgen leher dapat menunjukan adanya pembengkakan epiglotis.
b.kultur darah dan sensivitas
kultur darah digunakan untuk memastikan antibiotik yang adekuat terhadap bakteri penyebab

DIAGNOSA BANDING
            Diagnosa banding tergantung pada gejala –gejala yang timbul dan usia pasien , tetapi pada umumnya termasuk :
a.Faringitis
b.Laringitis
c.Terhirup benda asing
d.Croup
e.Abses retrofaring

PENANGANAN
            Epiglotitis adalah kegawatdaruratan medis yang bila tidak ditangani akan berakibat fatal.Prinsip penanganan dan pengobatan pasien dengan epiglotitis adalah semakin cepat penanganan prognosa semakin baik.Pasien harus dirawat di rumah sakit segera jika diagnosis klinis dicurigai.Visualisasi langsung dari epiglotis adalah diagnostik.Obstruksi jalan nafas dapat tiba tiba terjadi sehingga airway (jalan nafas ) harus segera ditangani dengan pemasanagn tuba endotrakeal. Hal ini diakibatkan pada epiglotis yang meradang mekanisme nya adalah menghalangi jalan nafas , kerja nafas menjadi meningkat dan retensi karbon dioksida dan hipoksia (oksigen rendah ) dapat terjadi.clereance sekresi juga terganggu .Faktor – faktor ini dapat mengakibatkan asfiksia fatal dalam beberapa jam dan dapat menyebabkan kematian. Untuk meningkatkan hidrasi dilakukan pemasangan iv line(cairan infus).
            Dalam kasus yang lebih parah , jika epiglotis bengkak dan memblokir jalan nafas , bahkan oksigen tidak mampu menanggulangi ,prosedur yang dapat dilakukan tim medis adalah trakeostomi.ini adalah tindakan dengan membuat lubang bkecil di trakea (tenggorokan ).Hal ini memungkinkan tabung untuk masuk ke epiglotis yang membengkak sehingga oksigen dapat masuk ke paru .Sementara bantuan ventilator penting untuk pasien dengan trakeostomi dengan perawatan itensif dengan pemberian antibiotik .

TERAPI MEDIKAMENTOSA
            Setelah penanganan umum telah dilakukan , pemberian antibiotik parenteral khusus harus segera  diberikan.Pemberian antibiotik digunakan untuk melawan infeksi sehingga mengurangi pembengkakan epiglotis yang dapat menyebabkan obstruksi total jalan nafas.Antibiotik dapat diberikan ampisillin/sulbactam,sefuroksim,ceftriaxone,aztreonam,dan chlorampenicol.Obat steroid juga dapat diberikan unntuk mengurangi peradangan disekitar epiglotis.

KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi :
a.Pembentukan abses
b.Meningitis
c.Septikemia
d.Gagal nafas
PROGNOSA
            Sebagian besar pasien akan sembuh tanpa gejala jika pengobatan dilakukan dengan dini dan pengobatan yang tepat.Kematian dapat terjadi bila terjadi obstruksi jalan nafas yang tidak ditangani segera.Penanganan yang cepat menghasilkan prognosa yang baik.

PENCEGAHAN
            Pencegahan dapat berupa imunisasi pertama untuk mencegah infeksi H.Influenzae, biasanya diberikan pada anak saat usia 2 tahun.Vaksinasi Haemophilus influenza type B (HIB) telah mengurangi insidensi epiglotitis secara dramatis pada anak – anak di Negara yang menerapkan vaksinasi tersebut sebagai vaksinasi rutin.

KESIMPULAN
            Epiglotitis merupakan penyakit kegawatdaruratan medik bila tidak ditangani dengan segera, sebab dapat menyebabkan obstruksi total jalan nafas , sehingga dapat menyebabkan kematian.Penyakit ini sulit terdeteksi pada awalnya , dimana Penderita akan mengalami keluhan  sakit tenggorokan seperti sulit menelan dan demam.Hal ini menimbulkan kecurigaan terhadap penyakit tenggorokan lain yang tidak berbahaya sehingga ahli medis harus memiliki ketelitian dalam menegakkan diagnosa.
            Epiglotitis akut merupakan suatu peradangan dan pembengkakan epiglotis yang terjadi secara tiba – tiba dana hilang dengan pemberian antibiotik dan kortikosteroid.
Namun hal ini bisa menimbulkan sesak nafas dan sianosis dalam waktu beberapa jam setelah keluhan tenggorokan.Bila terjadi obstruksi jalan nafas , pasien harus segera ditangani dengan memberi oksigen untuk melebarkan jalan nafas , dan ini efektif bila digunakan di kamar operasi sebab sering sekali oksigen tidak mampu menangulangi obstruksi jalan nafas .Bila hal ini terjadi maka sebaiknya dilakukan tindakan trakeostomi atau membuat suatu lubang udara dengan membuka trakea.Bila pasien sudah mampu bernafas dengan hemodinamik yang stabil dapat dilanjutkan dengan terapi medikamentosa.
            Prognosa penyakit ini baik bila dapat didiagnosa dengan cepat dan diberi antibiotik  dan kortikosteroid yang adekuat , dan mampu menjadi buruk bila tidak ditangani dengan cepat.
            Penyakit ini dapat dicegah dengan vaksinasi haemophilus influenzae pada umur 2 bulan sehingga penyakit ini jarang ditemukan.